Monday, February 6, 2012

Relativitas Waktu Menurut Tinjauan Al Qur’an

Sebenarnya ada 2 teori relativitas, yaitu teori relativitas khusus dan teori relativitas umum, yang keduanya tidak dikeluarkan dalam waktu yang bersamaan. Dalam teori relativitas khususnya, Eintein menjelaskan tentang hubungan antara kecepatan dengan waktu, massa dan panjang benda. Sedangkan di dalam teori relativitas umumnya lebih jauh lagi, menjangkau tentang fenomena alam semesta termasuk di dalamnya pengaruh gravitasi terhadap ruang dan waktu. Dalam buku ini, kita tidak akan membahas secara detail tentang kedua teori tersebut, tetapi kami akan menjelaskan keduanya secara umum saja.

Dari teorinya tersebut, Einstein menyatakan bahwa atom-atom akan terpengaruh oleh gerak dan gravitasi. Atom-atom yang dimaksud di sini bisa apa saja, seperti atom-atom penyusun tubuh manusia atau atum-atom pada benda-benda mati. Semakin cepat gerakan suatu benda, maka atom-atom penyusunnya akan bergerak lebih lambat pula. Konsekwensi dari lambatnya gerakan atom-atom itu adalah waktu pun akan berjalan lebih lambat menurut perhitungannya. Begitu pula jika suatu benda yang berada di daerah yang memiliki medan gravitasi yang besar, maka karena pengaruh gravitasi tersebut membuat atom-atom penyusunnya bergerak lebih lambat , maka otomatis waktu pun terasa lebih lambat baginya.

Pernyataan yang tersirat dari teori ini, menimbulkan keinginan besar para ilmuwan untuk membuktikan kebenarannya. Maka dimulailah beberapa percobaan yang menguji teori ini. Pada tahun 1971, dua fisikawan Amerika Serikat bernama J.C Hafele dan Richard Keating melakukan suatu eksperimaen dengan membawa empat jam atom ceacium terbang mengelilingi dunia dengan pesawat jet. Mereka membandingkan waktu yang ditunjukkan jam atom ceacium mereka dengan waktu standar di US Nafal Observatory, Washington DC.

Percobaan dilakukan dengan terbang ke barat dan timur yang seluruhnya memakan waktu selama 3 hari. Dari percobaan ini menghasilkan suatu data bahwa jam atom mereka ternyata sudah tidak cocok lagi dengan jam waktu standart di US Naval Observatory. Untuk setiap hari, jam atom yang diterbangkan ke timur kehilangan waktu rata-rata 59 nano detik (59 .detik), atau waktu menjadi lebih lambat jika melakukan perjalanan ke Timur. Untuk perjalanan menuju ke Barat mengalami pertambahan waktu sebesar 273 nano detik (273. detik), artinya waktu terasa lebih cepat jika berjalan ke arah Barat. Ternyata data eksperimen ini hampir sekali cocok dengan perhitungan teori relativitas yang memperkirakan bahwa perjalanan ke arah Timur akan mengalami perlambatan waktu sebesar 40 nano detik, sedangkan ke arah Barat akan akan menambah waktu sebesar 275 nano detik.

Dari percobaan di atas telah diketahui bahwa pengoperasian jam atom ternyata akan menjadi lebih lambat di bawah pengaruh gravitasi yang kuat dan sebaliknya akan menjadi cepat pada pengaruh gravitasi yang lemah. Hal ini disebabkan oleh karena cahaya bergerak lebih cepat dalam perjalanannya menuju pusat gravitasi daripada dalam gerakannya menjauhi pusat gravitasi. Waktu pun berlangsung lebih cepat ke satu arah tertentu daripada ke arah yang lain artinya waktu mendapatkan ruang terarah. Dalam perjalanan pesawat jet ke arah timur, yang berarti melawan arah rotasi bumi, mengakibatkan pesawat selalu bertemu dengan matahari yang memiliki medan gravitasi kuat, sehingga atom-atom jam ceacium bergerak lebih pelan. Sebaliknya, jika perjalanan dilakukan ke arah barat, artinya searah rotasi bumi, maka pesawat menjauhi arah matahari yang memiliki medan gravitasi kuat, akibatnya atom jam ceacium bergerak lebih cepat.

Gravitasi di permukaan bumi lebih kuat jika dibandingkan dengan gravitasi di luar amgkasa, tetapi gravitasi matahari ternyata lebih kuat daripada gravitasi di permukaan bumi. Hal ini mengakibatkan atom-atom yang bergerak di matahari akan lebih lambat jika dibandingkan dengan pergerakan atom di bumi. Karena itulah maka waktu di matahari menjadi lebih lambat daripada waktu di bumi, perbedaannya sekitar 1 menit setiap tahunnya.

Pengamatan lebih lanjut pada cahaya yang datang dari atom-atom di matahari, ternyata warna cahaya itu tampak berwarna lebih merah jika dibandingkan dengan yang terdapat di bumi. Di dalam ilmu fisika, spektrum cahaya tampak yang memiliki frekwensi rendah akan terlihat berwarna merah, semakin merah warnanya maka semakin rendah pula frekwensinya. Frekwensi adalah banyaknya gelombang yang terjadi dalam waktu 1 detik. Semakin cepat atom-atom bergetar, gelombang yang dihasilkan akan semakin banyak sehingga frekwensi semakin tinggi. Sebaliknya, jika atom-atom lambat bergetarnya, gelombang yang dihasilkan akan sedikit sehingga mengakibatkan frekwensinya menjadi rendah. Menurut Teori relativitas, pada matahari, karena atom-atomnya bergerak lebih lambat daripada bumi, maka pastilah frekwensi cahayanya lebih rendah daripada di bumi atau cahaya akan tampak berwarna lebih merah di matahari daripada di bumi. Ternyata hasil pengamatan itu benar-benar sejalan dengan Teori Relativitas Einstein.

Selain bukti tentang gravitasi kuat menyebakan perlambatan waktu, masih ada bukti lain yang menunjukkan bahwa sebenarnya waktu itu bersifat relatif dan tidak absolut yaitu karena faktor kecepatan. Sinar kosmik yang berasal dari luar angkasa jika jatuh ke bumi akan menumbuk atom udara di atmosfer bagian atas, sehingga partikel yang bernama pion yang memiliki waktu peluruhan yang sangat pendek yaitu beberapa nanodetik (10 detik) dihasilkan. Waktu peluruhan yang semakin cepat akan membuat partikel ini akan semakin cepat pula “menghilang” di angkasa. Partikel muon tercipta ketika terjadi peluruhan pion dan ternyata ia juga memiliki masa hidup yang pendek, waktu peluruhannya adalah 2,2 mikrodetik (10 detik). Akan tetapi muon di atmosfer bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, sehingga efek dilasi waktu (pemuluran waktu) dari teori relativitas membuat mereka menjadi mudah dideteksi pada permukaan bumi. Penjalaran pada kecepatan relativistik membuat muon dapat menembus sampai kedalaman sepuluh meter ke dalam batuan dan materi lain sebelum menipis dan habis sebagai hasil absorpsi (penyerapan) oleh atom-atom yang lain. Jika waktu hidup mereka kita hitung tanpa menggunakan efek relativistik (menggunakan teori relativitas) maka jarak tembus mereka ke bumi maksimal hanya sekitar 0,66 km dari atmosfer. Dengan memperhitungkan efek dilasi waktu dari teori relativitas memperkenankan muon sekunder sinar kosmis untuk mempertahankan penerbangannya menuju permukaan bumi sampai kedalaman tertentu. Ini menunjukkan bahwa ternyata semakin cepat sesuatu itu bergerak maka atom-atom penyusunnya akan bergerak lebih pelan daripada di kondisi normal.

Kesimpulannya adalah, jika kita ingin awet muda, maka kita bisa mengambil salah satu dari cara berikut ini. Cara pertama, kita bisa pergi ke dekat daerah yang memiliki medan gravitasi yang lebih besar daripada bumi, contohnya matahari atau black hole (lubang hitam) di luar angkasa. Cara kedua, kita bisa terbang dengan pesawat angkasa berkecepatan tinggi ke luar bumi untuk menjelajah alam semesta. Hal ini disebabkan karena jika kita berangkat dengan pesawat luar angkasa dengan kecepatan sangat tinggi mendekati kecepatan cahaya atau berada pada medan gravitasi yang besar maka waktu menjadi lambat bagi kita dan atom-atom penyusun tubuh kita bergerak lebih pelan.. Tentu saja cara-cara di atas masih belum sanggup untuk kita laksanakan karena teknologi manusia sekarang masih belum bisa menjangkaunya.

Mungkin kita batasi sampai di sini saja pembahasan kita mengenai Teori Relativitas Einstein, sebatas yang kita perlukan untuk memahami tentang menembus batas ruang dan waktu. Maka kesimpulan yang paling mendasar yang dapat kita ambil dari sedikit ulasan di atas adalah bahwa sebenarnya waktu itu bersifat relatif dan bukan absolut, kadang waktu bisa menjadi lebih lambat begitu pun sebaliknya bisa lebih cepat tergantung keadaannya. Menurut teori tersebut maka ruang dan waktu normal yang dialami oleh manusia di Bumi tidaklah dapat ditembus kecuali dengan dua hal, yaitu bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi atau berada di daerah yang memiliki medan gravitasi yang lebih kuat daripada di Bumi. Pernyataan ini menjadi kunci kita memahami bahwa sebenarnya ruang dan waktu itu bisa saja ditembus dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat canggih.


Waktu manusia dan waktu perhitungan Allah

Pada bab sebelumnya telah dijelaskan tentang Teori Relativitas Einstein secara sederhana. Paling tidak kita telah mengetahuinya secara ide walaupun kami tidak menuliskannya dalam rumusan fisika. Ide tentang kerelativitasan waktu memang hanya Albert Einsteinlah ilmuwan pertama yang mengatakannya, sekaligus menuliskan rumusan fisikanya yang sekarang banyak dipakai oleh ahli-ahli astronomi. Tapi benarkah bahwa ia juga yang pertama kali mengabarkannya kepada seluruh umat manusia di muka Bumi ini?

Kalau kami akan menjawabnya “Tidak”, mengapa? Justru Nabi kitalah orang pertama yang mengabarkan tentang kerelativitasan waktu itu sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu. Rasulullah Muhammad SAW adalah Nabi terakhir bagi seluruh umat manusia dan beliaulah yang membawa ajaran Islam yang telah disempurnakan oleh Allah SWT dan tidak akan pernah bisa digantikan oleh ajaran manapun baik sebelum maupun sesudah kedatangannya. Perkataannya adalah kebenaran yang langsung diwahyukan oleh Allah melalui malaikatnya yaitu Jibril As. Al Qur’an adalah Kalamullah atau perkataan Allah Sang Pemilik seluruh makhluk di langit dan di bumi yang disampaikan oleh Jibril kepada Rasulullah Muhammad SAW. Oleh karena itulah kita sebagai umat manusia wajib meyakini sepenuhnya bahwa apa yang ada di dalamnya adalah kebenaran mutlak yang tidak dapat tergantikan.

Lalu di ayat manakah yang menunjukkan tentang kerelativitasan waktu di dalam Al Qur’an itu ?. Ayat tersebut ada di Surat Al Hajj 47, yaitu Allah berfirman : “Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan , padahal Allah sekali - kali tidak akan menyalahi janji - Nya . Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu “.

Ayat ini secara jelas sekali menunjukkan bahwa dalam satu hari perhitungan Allah adalah seribu tahun menurut perhitungan kita di dunia. Bayangkan saja, betapa singkatnya kehidupan manusia di muka bumi ini menurut perhitungan Allah. Sepuluh hari menurut perhitungan Allah adalah 10.000 (sepuluh ribu) tahun menurut perhitungan kita dunia. Hal itu berarti sejak zaman sejarah manusia tertua di Mesopotamia (sekitar 7000an SM atau sekitar 9000 tahun yang lalu) sampai hari ini tidak sampai sepuluh hari menurut perhitungan Allah.

Pernahkah diantara kita menyaksikan film yang berdurasi sekitar 1 jam 45 menit ? mungkin jawabannya adalah sering sekali. Begitu pulalah dengan Allah yang Dia Maha Melihat dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari Nya dalam menyaksikan kehidupan salah seorang diantara kita. Kehidupan manusia sejak lahir sampai umur sekitar 60an tahun bagi Allah hanya berlangsung selama satu tiga perempat () jam saja, seperti durasi sebuah film yang sering kita tonton. Subhanallah, ternyata sangatlah singkat kehidupan manusia di muka Bumi ini menurut perhitungan Allah.

Ayat di atas jelas-jelas menggambarkan kepada kita bahwa waktu itu bersifat relatif dan bukan absolut, persis sama seperti yang dikatakan Einstein pada Teori Relativitasnya yang dikemukakan di tahun 1905. Inilah salah satu dari sekian banyak mukjizat yang terkandung di dalam Al Qur’an Kalamullah yang telah diturunkan lebih dari 1300 tahun sebelum Einstein mengemukakan ide briliannya itu. Tidak ada seorang pun yang mengetahui tentang konsep relativitas waktu ini sebelum Allah mengabarkannya kepada seluruh ummat manusia melalui Kitab Nya. Karena itulah kita sebagai seorang muslim harus mengetahui dengan baik tentang kandungan Kitabullah ini, karena di dalamnya banyak sekali berisi hikmah dan ilmu pengetahuan. Bahkan ilmu pengetahuan yang terdapat di dalam Al Qur’an itu telah banyak yang dibuktikan dengan penemuan-penemuan ilmiah masa ini.

No comments:

Post a Comment