Bumi, planet yang kita huni sekarang memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh planet-planet lain dalam sistem tata surya. Planet ini memang diciptakan khusus oleh Alloh SWT untuk menunjang kehidupan makhluk-makhlukNya seperti dalam firmanNya :
“Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata.” (Qaaf: 7)
Dalam teori pembentukan Bumi, telah disebutkan di dalam Al Quran surat Fushilat ayat 9-11 :
“Katakanlah,”Pantaskah kamu ingkar kepada Tuhan yang menciptakan bumi dalam dua (2) masa dan kamu adakan pula sekutu-sekutu bagiNya? Itulah Tuhan seluruh alam.” Dan Dia ciptakan padanya gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dan kemudian Dia berkahi dan Dia tentukan makanan-makanan bagi penghuninya dalam empat (4) masa, memadai untuk (memenuhi kebutuhan) mereka yang memerlukannya. Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada Bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan patuh”. Lalu diciptakanNya tujuh langit dalam dua (2) masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian langit yang dekat Kami hiasi dengan bintang-bintang dan Kami ciptakan itu untuk memelihara. Demikian ketentuan (Alloh) Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui”.
Ayat di atas sudah sangat jelas sekali menjelaskan tentang proses terbentuknya bumi dan langit dari awal sampai bentuknya sekarang ini yang memakan waktu selama 6 masa. Masa yang dimaksudkan di sini hanyalah Alloh SWT saja yang tahu secara pasti berapa lamanya. Ilmu pengetahuan modern hanya bisa menduga-duga atau memperkirakannya, berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan. Bila ditinjau ayat di atas juga beberapa analisa, maka penulis berkesimpulan terdapat beberapa tahapan dalam penciptaan bumi dan langit. Tahap pertama adalah pembentukan daratan yang memakan waktu 2 masa seperti ayat di atas. Tahap kedua yaitu pembentukan gunung-gunung, tahap ketiga dan tahap keempat mungkin waktunya hampir bersamaan, yaitu terbentuknya langit (atmosfer bumi) dan terbentuknya air baik di darat maupun di laut yang merupakan penunjang kehidupan. Tahap kelima adalah mulai munculnya tumbuh-tumbuhan di bumi sebagai makanan bagi penghuninya.
Tahap I : Terbentuknya Daratan Bumi
Bumi yang terdiri dari 70% lautan dan hanya 30% daratan yang menjadi tempat hunian manusia ini menurut penyelidikan para ahli mengenai radio aktifitas diperoleh kesimpulan bahwa bumi mulai terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu. Tapi sebagaimana telah diuraikan di atas mengenai proses kejadian alam semesta bahwa materi penyusun bumi yaitu unsur-unsur berat seperti karbon, oksigen serta logam-logam dan unsur lainnya sudah mulai dibentuk sejak dari awal pembentukan alam ini. Jadi bisa dikatakan bahwa proses penciptaan bumi sebenarnya dimulai sejak pembentukan pertama alam semesta ini, hanya saja pembentukan bumi secara utuh baru dimulai sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu. Seperti dalam firman Alloh SWT dalam Al Quran Surah Fushilat ayat 9 berikut ini :
“Katakanlah,”Pantaskah kamu ingkar kepada Tuhan yang menciptakan bumi dalam 2 masa dan kamu adakan pula sekutu-sekutu bagiNya? Itulah Tuhan seluruh alam.”
Karena Bumi yang kita huni ini begitu istimewa dan unik, maka sampai sekarang pun para ilmuwan masih meneliti bagaimana planet ini terbentuk mula-mula. Dari berbagai penelitian tersebut maka muncul beberapa gagasan dan teori tentang pembentukan bumi. Para peneliti percaya kalau planet-planet dalam di Tata Surya – Merkurius, Venus, Bumi dan Mars – sebenarnya mulai terbentuk 10000 tahun setelah pembakaran nuklir di Matahari . Dalam selang waktu 10 juta tahun Bumi sudah mencapai sekitar 64% dari ukurannya saat ini dan bahkan menjadi planet yang secara dominan telah terbentuk pada jarak 93 juta mil dari Matahari. Sementara itu orbit Merkurius dan Venus berada lebih dekat dengan Matahari sedangkan Mars berada lebih jauh dari Matahari.
Peristiwa paling akhir yang kemungkinan terjadi dalam proses pembentukan Bumi adalah tabrakan dengan objek berukuran Mars. Tabrakan inilah yang menambahkan jutaan ton materi ke Bumi. Namun bukan itu saja, sebagian materi lainnya juga tersebar didalam orbit Bumi dan pada akhirnya berevolusi membentuk Bulan. Tabrakan besar ini diperkirakan terjadi 30 juta tahun setelah kelahiran Matahari. Entah sampai berapa lama proses ini terbentuk masih belum bisa diketahui secara pasti, yang jelas bumi pada saat itu kemungkinan masih panas dan masih terus membentuk dirinya sendiri.
Dengan berbagai penemuan terbaru terhadap batuan-batuan meteorit yang jatuh ke bumi baik di kutub utara, dasar laut maupun di gurun pasir diperoleh informasi bahwa mereka telah berusia sampai 4 miliar tahun. Profesor John Valley, seorang pakar geologi dari University of Wisconsin, Madison menyimpulkan temuan tersebut sebagai hal yang menarik dan penting. Valley berpendapat, jika temuan ini cukup substansial, maka akan menjadi landasan bagi bukti baru yang mengindikasi bahwa lempeng tektonik pernah aktif dan tidak asing lagi sejak 3,8 miliar tahun yang lalu.
Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.
Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.
Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.
Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.
Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut: Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Teori lempeng tektonik adalah teori geologi yang menjelaskan gerakan skala besar dari permukaan bumi. Kerak bumi bagian luar dikatakan terbentuk dari dua lapisan, litosfera dan astenosfera. Litosfera yang berasal dari kerak paling luar dan paling atas ini terpecah menjadi tujuh lempeng besar dan beberapa lempeng kecil. Semua lempengan ini mengapung di atas astenosfera dan saling bergerak satu sama lain.
Hari ini kerak laut tercipta di batas-batas lempengan, dikenal dengan nama bubungan tengah laut, dimana magma muncul dari astenosfera melalui retakan-retakan di dasar laut. ”Dasar laut tidak terlindungi secara normal sejak 200 juta tahun lalu,” ungkap Profesor Minik Rosing dari University of Copenhagen. Kebanyakan dasar laut mengalami kerusakan pada zona subduksi seperti yang ditemukan di sepanjang tepian Lautan Pasifik, di mana keraknya terjatuh dan menetap sebagai kerak-kerak benua. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar.
No comments:
Post a Comment