Kisah tentang Ashabul Kahfi yaitu para pemuda beriman yang tertidur lama di gua telah dikenal sangat luas baik di kalangan kaum muslimin, orang-orang nasrani maupun yahudi. Cerita ini sangatlah tersohor di semua umat yang beragama Samawi (Islam, Nasrani dan Yahudi) karena terdapat di dalam kitab sucinya masing-masing. Kejadian ini tergolong sejarah yang sangat menarik untuk dikisahkan, karena disana tampak sebagian dari kekuasaan Allah yang diberikan kepada sejumlah pemuda yang tetap muda walaupun telah berusia lebih dari 300 tahun.
Ada beberapa versi cerita tentang kisah Ashabul Kahfi, terutama datang dari kalangan orang-orang Nasrani, bahkan mereka menjadikan kisah ini sebagai legenda “The Seven Sleeper”. Sedangkan di dalam Al Qur’an sendiri tidaklah membahas cerita ini secara mendetail dari awal sampai akhir, tetapi paling tidak kita dapat mengetahui dengan pasti bahwa keberadaan para penghuni gua ini memang benar-benar ada. Dalam menceritakan kisah Ashabul Kahfi ini kami akan merujuk pula beberapa analisa sejarah dari beberapa ahli sejarah dan ulama.
Dalam surat Al Kahfi ayat 13 Allah menceritakan sendiri kisah mereka. Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda - pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.
Allah sendiri telah mengatakan bahwa sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman, mereka memeluk agama yang benar, yaitu Islam. Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa semua Nabi mulai zaman Adam sampai Rasulullah SAW adalah membawa syariat Islam dan bukan agama yang lainnya. Semua pengikut para Nabi dan Rasul di zamannya akan bergelar sama dengan kita yaitu mukminin (orang-orang yang beriman) ataupun muslimin (orang-orang Islam). Bukankah Allah sendiri telah mengatakan di dalam Surat Ali Imran ayat 67 tentang Nabi Ibrahim As bahwa “Ibrahim bukanlah seorang yahudi dan bukan ( pula ) seorang nasrani , akan tetapi dia adalah seorang yang lurus (hanif) lagi seorang muslim dan sekali - kali bukanlah dia dari golongan orang - orang musyrik” .
Syariat Islam yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad SAW berbeda-beda, sedangkan semua itu telah disempurnakan oleh Allah pada syariat Islam terakhir yang dibawa Rasulullah SAW. Karena itulah jika Allah mengatakan bahwa para penghuni gua itu adalah orang-orang yang beriman kepada-Nya, maka bisa dipastikan bahwa mereka adalah mukminin yang mengikuti syariat yang telah dibawa oleh Nabi mereka pada zaman itu dan mereka bukanlah beragama Nasrani maupun Yahudi, tetapi beragama Islam. Hanya saja tentunya syariat Islam mereka itu bukanlah seperti syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW, karena mereka ada sebelum datangnya Nabi kita.
Secara aqidah, maka kita sama dengan para pemuda itu, yaitu mengesakan Allah SWT dan tidak mengakui Tuhan lain kecuali Allah SWT. Hal ini dikisahkan pada ayat selanjutnya di surat yang sama yaitu : Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata : " Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi, kami sekali - kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai Tuhan - Tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka ?) siapakah yang lebih zalim daripada orang - orang yang mengada - adakan kebohongan terhadap Allah? ".
Jelas sekali dari ayat ini bahwa mereka sangatlah membenci penyembahan berhala, karena bertentangan dengan aqidah mereka yang mengakui hanya Allah SWT saja Tuhannya. Pada zaman mereka ini hidup, kaumnya adalah para penyembah patung berhala, hanya segelintir orang saja seperti para Ashabul Kahfi ini yang beriman kepada Allah SWT. Karena kekuatan dan keteguhan hati yang diberikan Allah, dakwah pun telah mereka lakukan secara terang-terangan kepada pemimpin negeri mereka ketika mereka berdiri dan mengatakan bahwa " Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi “. Tetapi hawa nafsu pemimpin mereka begitu pula dengan kaumnya membuat mereka semua menolak ajakan dari para pemuda Ashabul Kahfi, bahkan mungkin saja para pemuda ini mendapatkan teror, ancaman dan pengusiran dari kaum dan pemimpinya sendiri.
Begitulah perjuangan penerus para Nabi dan Rasul, selalu sama di setiap zaman, mendapatkan makian dan ancaman dalam menyampaikan dakwahnya. Setelah semua cara tidak dapat lagi mereka usahakan, bahkan keselamatan mereka pun terancam, maka keluarlah mereka dari negeri tersebut atas petunjuk dari Allah, hal ini seperti firman-Nya di ayat selanjutnya. Dan apabila kamu meninggalkan mereka (kaumnya) dan apa yang mereka sembah selain Allah , maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat - Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu (Surat 18 : 16). (Ingatlah) tatkala pemuda - pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa : " Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi - Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ( ini ) " (Surat 18 : 10).
Dalam perjalanan mereka keluar dari negeri itu, dalam suasana yang mencekam akan ancaman pembunuhan dari penguasa negeri tersebut Allah memberikan petunjuk kepada mereka dengan bersembunyi ke dalam suatu gua. Agaknya cerita ini sangatlah mirip dengan kisah hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah bersama Abu Bakar dan bersembunyi di gua Tsur karena dikejar-kejar orang kafir Quraish yang hendak membunuhnya. Karena itulah mereka berdoa kepada Allah di dalam gua itu meminta pertolongan kepada-Nya dan tetap dikuatkan keimanannya.
Selanjutnya, Allah menginginkan mereka menjadi sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi seluruh umat manusia sampai akhir zaman. Di ayat yang lain di surat Al Kahfi Allah pun telah menjelaskan kelanjutkan kisahnya.
Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu (Surat 18 : 11) .Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan , dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu itu adalah sebagian dari tanda - tanda ( kebesaran ) Allah . Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah , maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang disesatkan - Nya , maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur, dan Kami balik - balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka menjulurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan ( diri ) dan tentulah ( hati ) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka (Surat 18 : 17-18). Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun ( lagi ) (Surat 18 : 25).
Dari sinilah keajaiban itu dimulai, yaitu ketika mereka semua merasa lelah sekali menempuh perjalanan yang cukup jauh yang mengakibatkan kantuk yang sangat berat dan kemudian tertidur pulas. Allah telah menutup telinga mereka dari mendengar apapun dari luar yang akan membangunkannya dari tidur yang panjang itu selama 300 tahun syamsiah (waktu perhitungan peredaran matahari) atau 309 tahun qamariyah (waktu perhitungan peredaran bulan).
Mereka semua tidaklah menyadari bahwa fenomena fisika yang luar biasa itu tengah terjadi pada dirinya. Waktu menjadi jauh lebih lambat bagi mereka, yaitu hanya sekitar sehari atau setengah hari saja sedangkan di luar gua itu waktu tetap berjalan normal seperti biasa, 1 hari selama 24 jam. Bila kita tinjau dari teori relativitas Einstein, bahwa waktu bisa jadi melambat karena 2 hal, yaitu karena bergerak dengan kecepatan tinggi mendekati kecepatan cahaya atau apabila berada di medan gravitasi yang besar. Mereka berada di dalam gua yang berada di dalam bumi, tentunya medan gravitasinya sama dengan bumi, tidak mungklin lebih besar dari itu. Jadi fenomena fisika relativistik yang mungkin terjadi ialah karena mereka bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi mendekati kecepatan cahaya ketika berada di dalam gua tersebut.
Sebelum membahas mengenai fenomena fisika tersebut, marilah kita tinjau lagi ayat 18 surat Al Kahfi di atas yaitu kata-kata “dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur” . Saya ingin bertanya kepada pembaca sekalian, bagaimanakah kita tahu seseorang itu tidur atau tidak tidur ?. Mungkin jawaban yang paling mudah ialah yang jelas mata tertutup, posisi bisa melintang ataupun duduk, sesekali mungkin bergerak ke kanan atau ke kiri tetapi dengan intensitas yang sangat jarang sekali atau bahkan tidak bergerak sama sekali ketika tertidur pulas, benar kan?. Tetapi mengapa Allah mengatakan “kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur” ?. Hal ini membawa pengertian bahwa ternyata jika kita melihat posisi mereka saat di dalam gua itu, maka kita bisa sangat memastikan bahwa mereka tidak dalam posisi tertidur. Sekarang saya tanya lagi kepada pembaca, bagaimanakah kita mengetahui bahwa seseorang itu sedang terjaga atau tidak tidur?. Jawabannya bisa saja adalah karena matanya terbuka, dalam posisi terlentang, duduk ataupun berdiri atau sedang bergerak melakukan sesuatu.
Kemudian di dalam ayat yang sama Allah telah berkata pula “dan Kami balik - balikkan mereka ke kanan dan ke kiri”. Sehingga kesimpulannya pastilah saat itu mereka di dalam gua tidak dalam kondisi diam saja melainkan sedang bergerak. Tetapi, bagaimana hakekat gerakan bolak-balik ini sebenarnya?, bukankah orang yang kelihatan sedang benar-benar tertidur juga kadangkala melakukan gerakan bolak-balik seperti ini ?. Pada penjelasan sebelumnya di atas sudah dikatakan pula bahwa jika kita melihat mereka, maka akan tidak nampak sebagai orang yang sedang tertidur bukan?, jadi bagaimana gerakan mereka itu sebenarnya ?.
Untuk lebih memperkuat kesimpulan kita nantinya tentang hakekat pergerakan itu, marilah kita tinjau lagi perkataan Allah lainnya “dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan ( diri ) dan tentulah ( hati ) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka”. Nah, pernyataan inilah yang mungkin sangat membantu kita memahami hakekat pergerakan itu sebenarnya. Apakah kita akan merasa takut jika seseorang yang sedang terlentang tidur kemudian sesekali ia membalikkan badannya ke kiri dan ke kanan ?, saya rasa tidak, karena itu hanya fenomena biasa saja jika seseorang sedang tertidur. Tetapi bagaimana jika ternyata kita memasuki suatu gua yang belum pernah kita temui sebelumnya dan ternyata di sana ada sekelompok orang yang sedang berputar sangat cepat sekali seakan-akan mereka tidak dapat menguasai diri mereka sendiri bahkan mereka tampak melayang di udara?. Pemandangan seperti ini pastilah akan membuat kita merasa takut sekali, dan akan segera lari berpaling kemudian tidak berani kembali lagi. Di dalam hati kita jangan-jangan terdapat banyak prasangka macam-macam, bisa saja menganggap mereka sedang melakukan ilmu sihir, belajar ilmu-ilmu gaib atau yang lainnya. Fenomena seperti itu tentunya belum pernah kita jumpai sama sekali di dunia ini, karena itu wajar jika kita akan merasa takut akan peristiwa tersebut.
Dari semua analisa di atas, mungkin dapat kita ambil pendekatan sainsnya yaitu bisa jadi pada saat itu mereka sedang berputar dengan kecepatan yang sangat tinggi, bahkan sangat mendekati kecepatan cahaya jika dimasukkan di dalam rumus relativitas Einstein. Pergerakan putaran ini, sebagaimana yang Allah katakan bahwa mereka bergerak ke kanan dan ke kiri adalah karena pada waktu tertentu mereka berputar searah jarum jam (ke kanan) dan di waktu yang lain Allah membalik perputaran itu ke kiri (berlawanan arah jarum jam). Perpindahan arah putaran ini mungkin dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan pada tubuh mereka atau mungkin juga ada alasan tertentu lainnya. Dalam kondisi berputar itu tentunya mereka akan berada dalam posisi yang sedikit melayang di udara, hal ini tentunya agar badan mereka tidak terkena tanah. Sedangkan posisi mereka terlentang tidur ataupun berdiri tidak bisa dipastikan dengan jelas, karena tidak ada ayat yang secara jelas menerangkannya, wallahu’alam.
Analisa di atas akhirnya membuat semua kejadian yang mereka alami di dalam gua itu menjadi mungkin bagi logika kita dan rumusan fisika karena dengan bergerak cepat itulah maka waktu akan menjadi sangat-sangat lambat dalam perhitungan mereka. Karena waktu yang lambat itulah maka atom-atom penyusun tubuh mereka akan juga bergerak pelan sehingga mereka akan tetap awet muda meskipun telah lewat 300 tahun menurut perhitungan normal. Jika kejadian ini benar-benar terjadi seperti analisa di atas, maka sebenarnya merekalah para pemuda Kahfi yang telah membuktikan pertama kali kebenaran teori relativitas waktu tentang kecepatan sebelum teori ini disampaikan. Ini hanyalah pendekatan dalam ilmu fisika, sedangkan kejadian yang sebenarnya apakah demikian, hanya Allah yang mengetahuinya, wallahu’alam.
Para pemuda yang beriman ini telah menembus batas ruang dan waktu yang tidak mungkin dilalui oleh manusia di zamannya maupun di zaman modern sekarang ini. Walaupun mereka tidak mengetahui apa yang telah terjadi pada dirinya saat itu, tetapi Allah ternyata telah memberikan keajaiban yang sangat luar biasa kepada mereka. Kejadian ini begitu sangat mengherankan untuk terjadi sebelum kita mengetahui tentang teori relativitas waktu. Dengan ilmu pengetahuan yang sebenarnya adalah Sunatullah itu, maka semakin tahulah kita tentang kebesaran dan kekuatan-Nya. Sebagai orang-orang yang beriman dan mengakui kebenaran ayat-ayat Nya, maka tidak ada kemampuan kita selain menyungkur sujud atas semua kebesaran-Nya itu.
Para pemuda Al Kahfi adalah manusia pertama yang dikabarkan di dalam Al Qur’an yang mungkin dapat bergerak dengan kecepatan sangat mendekati kecepatan cahaya, yaitu sekitar 299.999 km/detik. Bagaimana dengan kekuatan tubuh mereka menahan kecepatan yang sangat tinggi itu, hanyalah Allah SWT yang mengaturnya, karena hal ini adalah sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya. Sedangkan menurut ilmu fisika, fenomena tidur panjang mereka sangatlah mungkin untuk terjadi sesuai dengan analisa di atas tadi. .
Bagaimana kondisi di dalam gua tersebut, telah Allah kabarkan kepada kita di dalam ayat 17 di surat yang sama. “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit , condong dari gua mereka ke sebelah kanan , dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu itu adalah sebagian dari tanda - tanda ( kebesaran ) Allah . Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah , maka Dialah yang mendapat petunjuk ; dan barangsiapa yang disesatkan - Nya , maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya “.
Dari ayat tersebut jelas sekali bahwa Allah telah mengabarkan kepada kita gua yang mereka diami itu adalah gua yang luas dan matahari bisa masuk ke dalamnya. Matahari sangat penting untuk tubuh mereka di dalam gua. Matahari dapat mengaktifkan kerja melanin untuk menjaga kulit mereka agar tidak pucat sehingga kulit akan tetap sehat dan segar. Selain itu, matahari juga dipakai untuk mengaktifkan provitamin D manjadi vitamin D di dalam tubuh untuk membantu penyerapan kalsium ke dalam tulang, jika tidak ada matahari ini maka pastilah akan sulit sekali kalsium diserap oleh tulang yang mengakibatkan tulang mereka menjadi keropos. Ayat 17 di atas juga telah mengatakan kepada kita bahwa matahari hanyalah masuk ke dalam gua pada pagi hari dan sore hari saat matahari tidaklah menyengat, karena itulah saat-saat yang sangat baik dan menyehatkan. Matahari tidak masuk ke dalamnya saat terik di siang hari, karena ini adalah saat yang tidak baik bagi kulit kita menerima sinarnya. Maha Besar Allah yang telah menyiapkan semua itu kepada mereka, padahal pastilah gua itu telah ada sebelum mereka semua dilahirkan.
Terus apa yang terjadi setelah 309 tahun berlalu ? Allah menceritakan kisah selanjutnya di surat yang sama.
Kemudian kami bangunkan mereka , agar kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal ( dalam gua itu ) ( Surat Al Kahfi ayat 12).
Dan demikianlah kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri . Berkatalah salah seorang di antara mereka : " Sudah berapa lamakah kamu berada ( di sini ? ) . Mereka menjawab : " Kita berada ( di sini ) sehari atau setengah hari ". Berkata yang lain lagi : " Tuhan kamu lebih mengetahui lamanya kamu berada ( di sini ). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini , dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik , maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu , dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali - kali menceritakan halmu kepada seseorang pun .
Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu , niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu , atau memaksamu kembali kepada agama mereka dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama - lamanya " .
Dan demikian ( pula ) kami mempertemukan ( manusia ) dengan mereka , agar manusia itu mengetahui , bahwa janji Allah itu benar , dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang - orang itu berselisih tentang urusan mereka , orang - orang itu berkata : " Dirikanlah sebuah bangunan di atas ( gua ) mereka . Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka " . Orang - orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata : " Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah masjid di atasnya " ( Surat Al Kahfi ayat 19-21).
Setelah tertidur selama 309 tahun, akhirnya mereka terjaga dan saling bertanya tentang lamanya mereka berada di sana. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa mereka tertidur hanya sehari atau setengah hari, hal ini dikarenakan tidak ada satu pun dari mereka yang bertambah tua, hanya seperti tidur di siang hari saja. Kemudian yang lain mencoba menengahi dengan mengatakan “Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu tinggal di sini”.
Tidur yang panjang itu membuat diri mereka terasa sangat lapar, sehingga memutuskan untuk mengutus seorang dari mereka untuk pergi ke pasar membeli makanan. Pesan mereka kepada utusan itu adalah ia diharapkan agar berhati-hati jangan sampai ketahuan jati dirinya dan tempat persembunyiannya sehingga tidak tertangkap oleh kaumnya yang zalim itu. Maka berangkatlah ia ke pasar untuk membeli makanan untuk mereka dengan membawa sejumlah uang perak yang diterbitkan di zaman 309 tahun yang lalu. Selama perjalanannya menuju ke pasar, pastilah ia akan menjumpai hal-hal yang belum pernah ia temui sebelumnya, orang-orangnya, keadaan kotanya, pasarnya dll yang membuatnya semakin takut. Setelah sampai di suatu pasar, maka ia hendak membeli makanan dengan uang peraknya tersebut. Ternyata si penjual sangat kaget melihat uangnya itu, karena itu adalah uang kuno, mungkin nampak wajah penguasa kota tersebut 300 tahun yang lalu di uang perak itu. Maka dilaporkanlah perihal utusan itu oleh si penjual tadi kepada penjaga keamanan kota yang kemudian menyampaikan berita itu kepada penguasa kota tersebut.
Akhirnya utusan para pemuda Kahfi tadi dipanggil oleh penguasa kota dan disuruh menceritakan perihal dirinya. Penguasa kota di zaman ketika mereka dibangunkan kembali ini adalah penguasa yang beriman, sangat berbeda sekali dengan penguasa ketika mereka masuk ke dalam gua tersebut 309 tahun yang lalu. Karena itulah maka ia berani menyampaikan perihal diri mereka kepada penguasa itu. Begitu takjub penguasa kota itu beserta pembesar-pembesarnya mendengar cerita utusan tersebut, bagaimana tidak ? dihadapannya berdiri orang yang hidup 300 tahun yang lalu tetapi sampai saat itu masih dalam kondisi muda dan segar bugar. Maka penguasa kota itu minta kepadanya ditunjukkan tempat persembunyian mereka di gua dan ia ingin memuliakan hidup mereka semua.
Sesampainya di muka gua, utusan itu meminta kepada semua yang mengantarnya agar jangan ikut masuk ke dalam gua itu, karena dikhawatirkan teman-temannya akan kaget melihat mereka. Maka masuklah utusan itu ke dalam gua kemudian ia menceritakan kisah yang dialaminya kepada mereka semua. Semua pemuda Al Kahfi sangat kuat imannya, mereka tidak mau manusia menjadi gempar karena kehadiran mereka di tengah-tengah masyarakat itu, apalagi sampai memuliakan mereka. Mereka khawatir akan menjadi fitnah bagi masyarakat dan akan membuat imannya menjadi lemah. Karena itulah mereka memohon kepada Allah agar segera diwafatkan saja agar semua persoalan ini terselesaikan dengan baik. Allah mengabulkan permohonan mereka kemudian mewafatkan mereka semua di dalam gua itu.
Setelah kematian mereka semua di dalam gua gua itu, penguasa kota sangat sedih dan tetap berkeinginan memuliakan mereka. Maka ia memerintahkan kepada anak buahnya untuk mendirikan sebuah masjid di atas gua mereka agar ia dan masyarakatnya bisa beribadah di sana. Semenjak peristiwa bangunnya para pemuda Kahfi dari tidur panjangnya itu, maka sadarlah masyarakat kota itu dan juga seharusnya kita semua bahwa janji Allah itu benar , dan bahwa kedatangan hari kiamat dan hari kebangkitan itu tidak bisa diragukan lagi.
Siapakah Penguasa Negara Ashabul Kahfi Berada di Saat Sebelum dan Sesudah Tidurnya ?
Ada 2 pandangan yang populer mengenai siapakah raja atau penguasa negera dari Ashabul Kahfi berada. Semua pandangan ini didasarkan pada penguasaan Romawi atas daerah-daerah di utara Semenanjung Arabia, yang dulunya disebut sebagai Syam sampai ke daerah Turki. Syam sekarang meliputi negara Syiria, Libanon, Israel, Palestina dan Yordania. Dahulunya negeri Syam adalah daerah kekuasaan Romawi Timur sampai Islam menguasainya ketika berada di bawah kekhalifahan Umar bin Khatab Ra.
Pandangan pertama mengatakan bahwa kisah ini terjadi di zaman pemerintahan kaisar Romawi Timur Diqyanus atau Decius yang memerintah Romawi timur pada sekitar 249-251 Masehi. Pada saat itu, pemerintahan dipusatkan di kota Amman Yordania sebelum dipindahkan ke Turki oleh kaisar Konstantin yang mendirikan kota Konstantinopel (Istambul) sekitar awal tahun 300 Masehi. Diqyanus terkenal sebagai kaisar yang kejam dan suka menyiksa penduduk yang tidak sepaham dengannya. Pada saat itu Romawi masih merupakan negara yang menyembah patung berhala dewa-dewa. Jika ada yang menolak penyembahan patung-patung berhala itu maka ia akan bertindak kejam bahkan membunuh orang tersebut. Kemudian dikatakan bahwa Ashabul Kahfi bangun di saat pemerintahan kaisar Theodocius II yang memerintah Romawi Timur sekitar tahun 408 sampai 521 Masehi. Kaisar-kaisar Romawi Timur memeluk agama Nasrani setelah Kaisar Konstantin di tahun 300an Masehi menjadikannya agama negara, termasuk di dalamnya Teodocius II. Tetapi tentunya di sini sudah banyak sekali penyelewengan dari ajaran yang sebenarnya, salah satunya adalah konsep Trinitas yang mengakui adanya 3 Tuhan yaitu Tuhan Bapa, Tuhan anak dan Roh Kudus.
Pandangan kedua ialah kisah ini terjadi ketika Romawi Timur diperintah oleh kaisar Trajan atau Trajanus sekitar tahun 98 – 117 Masehi. Manuskrip sejarah membuktikan bahwa kaisar yang diktator ini menyembah berhala dan membunuh siapa saja yang menentang penyembahan tuhan-tuhannya. Lebih-lebih lagi, kaisar ini mengeluarkan undang-undang yang tegas yang berisi hukuman terhadap para penolak penyembahan berhala. Kaisar pada saat itu mungkin berada di pusat ibukota di Damascus, Syiria dan memiliki tangan kanan gubernur-gubernur di kota-kota besar. Salah satu sumber sejarah menyebutkan bahwa terdapat sebuah surat yang ditulis oleh Gubernur Romawi Pilinius (69-113 M) yang berada di Barat Laut Anatolia kepada Kaisar Trajanus, ia merujuk kepada sekelompok pengikut agama Messiah / Masehi (asal katanya mungkin dari Al Masih yaitu gelar untuk Nabi Isa As) atau Nasrani yang dihukum karena menolak menyembah patung berhala. Dikatakan bahwa Ashabul Kahfi adalah salah satu diantara pengikut Isa Al Masih yang masih memegang teguh ajaran yang sebenarnya, yaitu mentauhidkan Allah. Kemudian mereka dibangunkan saat pemerintahan Kaisar Teodocius II yang memerintah Romawi Timur antara tahun 408 sampai 450 Masehi.
Jika kita simak baik-baik Surat Al Kahfi ayat 25 telah disebutkan bahwa mereka tinggal di dalam gua selama 300 tahun Syamsiah atau 309 tahun Qamariah. Jika kita masuk ke pendapat pertama yaitu saat Diqyanus memerintah, maka paling awal adalah di tahun 249 Masehi, sedangkan Theodocius II paling akhir memerintah di tahun 450 Masehi. Dari data ini maka dapatlah kita ketahui bahwa rentang waktu awal Diqyanus memerintah sampai akhir masa pemerintahan Teodocius II hanya berjarak 201 tahun saja. Pendapat pertama ternyata bertentangan dengan ayat 25 di atas, jika ternyata data ini memang benar-benar akurat. Otomatis jika pendapat tersebut bertentangan dengan Al Qur’an pastilah salah, sebab hanya Al Qur’an sajalah sumber kebenaran yang hakiki.
Jika kita lihat pendapat kedua, maka pendapat ini masih memungkinkan untuk benar, karena jika dilihat rentang waktu dari Trajanus yaitu di tahun 98 – 117 Masehi sampai ke Teodocius II di tahun 408 sampai 450 Masehi akan sampai lebih dari 300 tahun. Jika kita ambil rentang waktu terjauhnya akan didapatkan angka 352 tahun, sedangkan rentang waktu sejak awal Trajanus memerintah sampai awal Teodocius II adalah 310 tahun. Sehingga dari sini jelaslah bahwa pendapat kedua lebih bisa diterima karena sesuai dengan ayat 25 di atas. Bisa jadi di rentang waktu antara kedua kaisar inilah Ashabul Kahfi berada.
Kedua pendapat di atas memang mayoritas kita dapatkan di beberapa referensi tentang kisah Ashabul Kahfi, tetapi ini pun tidak bisa dipastikan 100% kebenarannya. Alasan utamanya ialah karena cerita ini sudah sekian lama terjadi, bahkan sebelum kelahiran Rasulullah Muhammad SAW dan mungkin seringkali tercampur dengan pendapat sebagian besar orang-orang Nasrani. Agaknya cerita ini digabungkan oleh orang-orang Nasrani dengan berbagai kisah sejarah para pengikut sekte-sekte Kristen yang dikejar-kejar penguasa Romawi yang menyembah berhala sebelum masa Kaisar Konstantin (300 Masehi). Contoh sekte Kristen yang terkenal adalah sekte Yesuit Qumran yang berlindung di gua Qumran daerah kekuasaan Israel saat ini karena dikejar-kejar oleh penguasa Romawi. Di gua ini ditemukan banyak sekali manuskrip-manuskrip kuno yang bercerita tentang masa depan dan masa lalu yang sebagiannya disimpan di perpustakaan Paus di Vatikan.
Kalau kita analisa kembali cerita-cerita di atas mungkin masih sangat jauh dari kebenaran karena hanya berjarak sekitar 250an tahun dari masa Rasulullah SAW. Orang-orang Arab Mekah sudah seringkali berdagang menuju ke daerah Syam, yaitu daerah orang-orang Nasrani saat itu, tetapi mengapa tidak ada seorang pun dari mereka yang mendengar kisah itu sebelumnya dari nenek moyang mereka ?. Sedangkan yang mengetahui dengan baik kisah itu adalah orang-orang Yahudi Madinah saat itu sebab Surat Al Kahfi ini diturunkan karena pertanyaan mereka kepada Nabi Muhammad untuk menguji kenabiannya melalui perantara orang Mekah. Pendeta Yahudi Madinah mengetahui kisah ini secara pasti melalui kitab Taurat mereka yang asli. Kita tahu sendiri bahwa kitab Taurat Nabi Musa As diturunkan jauh sebelum Nabi Muhammad SAW sekitar tahun 1500-1300 SM, berarti pastinya kejadian itu berlangsung sebelum kenabian Musa As. Karena kejadian itu terpaut jarak yang sangat jauh, maka akan sulit sekali untuk melacak sejarahnya. Oleh sebab itu, hanya Allah sajalah yang Maha Mengetahui siapa, dari mana, kapan mereka hidup dan dibangunkan kembali, wallahua’lam.
Berapakah Jumlah Ashabul Kahfi ?
Pertanyaan ini dengan tegas dijawab oleh Allah SWT di Surat Al Kahfi ayat 22.
“Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang ke empat adalah anjingnya , dan (yang lain) mengatakan : " (jumlah mereka) adalah lima orang yang ke enam adalah anjingnya " , sebagai terkaan terhadap barang yang ghaib, dan (yang lain lagi) mengatakan : " (jumlah mereka) tujuh orang , yang kedelapan adalah anjingnya " katakanlah : " Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka ; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit " . Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka , kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda - pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka”.
Dari ayat di atas telah disebutkan bahwa suatu saat nanti, yaitu setelah turunnya ayat ini ada orang yang mengatakan tentang jumlah mereka sekian dan sekian. Maka kita diperintahkan untuk mengatakan “ Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka, tidak ada orang yang mengetahui jumlah mereka kecuali sedikit ". jumlah mereka berapa, tidaklah menjadi esensi dari kisah ini sebenarnya, karena itulah kita tidak perlu memastikan jumlah mereka yang terlibat di dalamnya. Sedangkan dari beberapa literatur banyak sekali yang mengatakan bahwa jumlah mereka adalah tujuh orang dan yang kedelapan adalah anjingnya. Pendapat ini bisa saja benar, hanya saja tidak dapat dipastikan 100% kebenarannya apalagi mengenai nama-nama mereka semua. Semua itu tidaklah perlu kita perdebatkan sebagaimana yang telah disampaikan di dalam ayat di atas. Jumlah mereka hanya Allah saja yang mengetahuinya dengan pasti, sedangkan manusia hanya sebagian kecil yang mengetahui persis jumlah mereka ketika itu, wallahua’lam.
Dimanakah Lokasi Gua Ashabul Kahfi ?
Ada banyak sekali pendapat mengenai dimana letak gua Ashabul Kahfi berada. Pendapat yang populer adalah lokasi gua tersebut berada di daerah Turki dan Jordania. Selain kedua negara itu masih ada beberapa tempat lagi yang diperkirakan sebagai lokasi gua Ashabul Kahfi, yaitu di Abu Qasiyyun Syiria, Saudi Arabia dan Spanyol. Ternyata di daerah Turki ada beberapa gua yang dianggap sebagai gua Ashabul Kahfi, yang terkenal adalah di daerah Tarsus dan Ephesus, sedangkan di Jordania terdapat di Abu Alanda, Amman.
Pendapat pertama yang mengatakan bahwa lokasi gua itu berada di Ephesus adalah pendapat dari beberapa ahli sejarah terkemuka seperti Gibbon yang mengutib dari pendeta Syria bernama James dari Saruc (lahir 452 M).
Pendapat kedua yang mengatakan bahwa lokasi mereka terletak di daerah Tarsus berasal dari beberapa sejarawan muslim. Diantara mereka yang memegang pendapat ini adalah ahli tafsir Al Quran terkemuka yaitu Ath-Thabari yang mengatakan bahwa nama gunung tempat gua tersebut berada adalah “Bencilus” dalam kitabnya yang berjudul “Tarikh Al Umam, dan menambahkan bahwa gunung ini terletak di Tarsus. Selain itu, ahli Tafsir Al Quran yang lain bernama Muhammad Amin menyatakan bahwa nama gunung tersebut adalah “Pencilus” dan berada di Tarsus. Fakhruddin Ar-Razi seorang ulama Al Quran terkenal lainnya, menjelaskan dalam karyanya bahwa “meskipun tempat ini disebut Ephesus, tujuan dasarnya di sini adalah untuk mengatakan Tarsus, karena Ephesus hanyalah nama lain dari Tarsus”. Sebagai tambahan, dalam Tafsir Qadi Al Baidhawi dan An-Nasafi, dalam Tafsir Al Jalalain dan At-Tibyan, dalam komentar dari Elmali dan O. Nasuhi Bilman, dan banyak ulama lainnya, tempat ini ditunjuk sebagai “Tarsus”.
Pendapat yang ketiga adalah yang mengatakan lokasi tersebut ada di Abu Alanda Jordania. Pendapat ini salah satunya adalah dari kru Jejak Rasul, yaitu sebuah tim khusus dari negeri Malaysia yang melakukan perjalanan ke daerah-daerah yang dahulunya pernah menjadi tempat atau lokasi sejarah Nabi-Nabi dan Rasul. Dia adalah Muhamad Hazimin bin Sulaiman yang menceritakan tentang kisah perjalanannya ke beberapa lokasi gua Ashabul Kahfi baik di Turki, Syiria maupun di Jordania dan menganggap bahwa gua di Abu Alanda adalah yang paling sesuai dengan ciri-ciri yang dijelaskan di dalam Al Qur’an.
Berikut ini adalah pemaparannya dan bukti-bukti arkeologis yang ditemukan di sana.
1. Lokasi Gua Ashabul Kahfi di Abu Alanda, Jordan terdapat sebuah lubang dari atas gua yang memasuki cahaya ketika matahari terbit dan ketika terbenam matahari berada dari arah pintu gua sesuai dengan ayat 17 di atas.
2. Di atas Gua Ashabul Kahfi di Abu Alanda terdapat rumah ibadat yang telah lama dibangun, hal ini sesuai dengan ayat 21 di atas. Rumah ibadat yang dimaksudkan adalah rumah ibadat penganut Nasrani. Ketika zaman kerajaan Umaiyah, rumah ibadat tersebut telah dijadikan masjid.
3. Bentuk gua yang terdapat di Abu Alanda adalah luas dan lapang serta tidak dalam seperti yang dikatakan di ayat 17 di atas.
4. Terdapat tulisan pada lengkungan pintu di dinding sebelah Timur yang menyatakan 'Masjid diperbaharui pada tahun 117 Hijriah yang merujuk kepada zaman Hisham bin Abdul Malik bin Marwan. Ini membuktikan bahawa ketika zaman kerajaan Umaiyah mereka sudah memperharui masjid yang sebelum itu menjadi rumah ibadat umat Nasrani. Kesan yang boleh dilihat ialah petunjuk arah kiblat yang terdapat di atas gua tersebut.
5. Tulisan khat Kufi turut ditemui yang mengisyaratkan bahawa masjid kedua di Ashabul Kahfi diperbaharui pada zaman Khomarumiah bin Ahmad Tholun dari kerajaan Abasiah. Masjid kedua yang dimaksudkan ialah masjid yang dibangun berhadapan dengan gua Ashabul Kahfi setelah masjid pertama diwujudkan di atas gua ketika zaman Umaiyah.
6. Nawawis di dalam gua. Nawawis di dalam Mu'jam Wasit berarti adalah kuburan orang Nasrani yang diletakkan mayat di dalamnya. Pada Nawawis tersebut terdapat bintang segi delapan yang membuktikan tanda zaman kerajaan Romawi Timur pada zaman ke-3 Masehi. Menjadi adat pada ketika itu, mayat-mayat Nasrani akan dikuburkan di dalam bekas batu. Ini tidak mustahil bahawa mereka yang telah menguruskan mayat pemuda tersebut telah menguburkan mereka dengan cara dan adat mereka pada ketika itu.
7. Penemuan tembikar, uang tembaga dan perak, lampu dari berbagai zaman (Umaiyah, Abasiah, Turki Utsmaniyyah) di dalam gua tersebut dan sekitarnya. Ini berarti bahwa tempat itu telah dijaga oleh berbagai zaman.
8. Al-Waqidi di dalam kitabnya Futuhat Sham telah menulis bahawa beliau bersama yang lain telah berhenti di Ain Ma' berdekatan dengan gua Ashabul Kahfi. Mereka berhenti di Ain Ma' tersebut lalu berwudlu, sholat dan tidur disana sebelum meneruskan perjalanan keesokkan harinya ke tanah Palestina. Ain Ma' terletak 70 meter dari gua Ashabul Kahfi.
9. Pokok zaitun berusia ratusan tahun tumbuh berhadapan gua. Pokok tersebut telah mati dan kesan batang pokok zaitun yang berusia ratusan tahun itu kini ditempatkan di dalam museum mini di dalam gua.
10. Penemuan tulang di dalam Nawawis. Dikatakan bahwa tulang-tulang tersebut adalah kepunyaan pemuda-pemuda tersebut.
Semua orang di atas memegang teguh pendapat-pendapat mereka, sedangkan kebenarannya tidak dapat kita ketahui secara pasti karena kebanyakan kisah tersebut berasal dari orang-orang Nasrani. Kita serahkan saja permasalahan ini kepada Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tampak maupun yang tersembunyi di masa lalu maupun masa-masa yang akan datang. Wallahua’lam.
Baca selanjutnya di kisah Nabi Sulaiman ya....
No comments:
Post a Comment