Wednesday, February 8, 2012

Penciptaan Alam Semesta

“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al Anbiyaa’, 21: 30)

Alloh SWT telah mengabarkan kepada seluruh umat manusia sejak 14 abad yang lalu di dalam Al Quran bahwa dahulu sebelum terbentuk alam semesta seperti sekarang ini langit dan bumi adalah 1 kesatuan yang tidak terpisahkan. Sekarang ini dengan semakin tingginya teknologi dan ilmu pengetahuan, barulah dapat terbukti dengan perhitungan matematika, teoritik dan pengamatan bahwa benarlah apa yang dikatakan oleh Alloh dalam kalamNya tersebut.

Dalam teori pembentukan alam semesta yang telah teruji secara perhitungan maupun pengamatan yang disebut sebagai teori “Big Bang” atau dentuman besar, dikatakan bahwa dahulunya alam semesta ini adalah sebuah massa yang sangat besar kerapatannya (sangat padat) sampai-sampai dianggap memiliki volume yang sangat kecil atau dikataka memiliki “volume nol”. Karena massa alam semesta yang luas ini termampatkan sedemikian kecilnya itu, maka bisa dibayangkan betapa sangat panasnya temperaturnya saat itu. Mungkin bisa dibayangkan seperti kita memompa sebuah pompa angin yang disumbat sehingga anginnya tidak bisa keluar, maka jika terus saja ditekan akan mengakibatkan tabung pompa tersebut akan menjadi panas disebabkan volume yang kecil di dalam tabung disertai tekanan yang begitu kuat.

Entah sampai berapa lama alam semesta dalam keadaan seperti itu, hanyalah Alloh yang mengetahuinya, tetapi lebih jauh dari itu Dia telah menyiapkan momen yang sangat tepat dimana variabel-variabel yang diperlukan untuk suatu penciptaan besar itu sudah sangat cocok sekali. Di saat waktu yang tepat itulah terjadinya dentuman yang sangat luar biasa membahana, mulailah waktu berjalan di alam semesta begitu pula ruang mulai terhampar di segala penjuru, atas-bawah, kiri-kanan, timur-barat, utara – selatan dst. Para ilmuwan sepakat bahwa waktu itu kira-kira 10 sampai 17 miliar tahun yang lalu. Setelah itu apa yang terjadi ? Allohlah yang lebih mengetahui semua proses yang telah terjadi itu, sedangkan manusia dengan sedikit ilmu yang diberikan Nya hanya bisa memprediksi kejadian tersebut.

Gambaran tahap dini dari alam semesta seperti di bawah ini dikemukakan oleh ilmuwan kosmologi Stephen Hawking dalam bukunya A Brief History of Time. Satu detik setelah dentuman besar terjadi, temperatur di alam semesta ini turun sampai kira-kira sepuluh miliar derajat. Ini kira-kira seribu kali temperatur pusat matahari atau mungkin setara dengan temperatur yang dihasilkan dari ledakan bom hidrogen. Alam semesta muda ini, terutama berisi partikel-partikel sub atomik untuk pembentukan atom seperti proton (partikel muatan positif), elektron (partikel muatan negatif), neutron (partikel muatan netral) serta foton (partilkel cahaya).

Sekitar seratus detik setelah dentuman besar, alam semesta terus saja mengembang, sedangkan temperaturnya menurun lagi menjadi sekitar satu miliar derajat, atau hampir setara dengan temperatur di pusat bintang terpanas. Saat ini mulailah fase baru dalam pembentukan alam semesta, yaitu bersatunya 1 proton dan 1 neutron menjadi inti atom deuterium (hidrogen berat) karena tarikan dari gaya nuklir kuat sangatlah besar sedangkan kecepatan mereka bergerak tidak mampu lagi menahannya. Mulai saat itulah banyak terbentuk pula inti atom helium (He) yang terdiri dari 2 proton dan 2 neutron serta inti unsur lainnya, tetapi ada juga yang meluruh, seperti neutron yang menjadi proton, yaitu inti dari hidrogen (H).

Hanya dalam beberapa jam setelah dentuman besar, produksi helium dan unsur-unsur lain terhenti sampai kira-kira sejuta tahun berikutnya tidak banyak yang terjadi dalam jagat raya ini, kecuali pemuaian berlanjut dan temperatur yang terus menurun sampai beberapa ribu derajat. Dalam kondisi yang seperti ini mulailah elektron bergabung dengan inti atom membentuk atom-atom. Kondisi ruang angkasa yang sebagian besar terdiri dari ruang kosong tersebut berkumpullah atom-atom yang sangat banyak yang terdiri dari sebagian besar hidrogen dan helium di banyak kawasan di seluruh alam semesta ini membentuk suatu debu kosmik yang sangat besar, yang merupakan cikal bakal terbentuknya galaksi-galaksi.

Secara umum, pemuaian alam semesta terus berlanjut menjadi semakin meluas. Sedangkan pemuaian di kawasan-kawasan debu kosmik ini melambat karena tarikan gravitasi antara sesama massa atom-atom tersebut. Akhirnya pemuaian di kawasan ini terhenti dan mulailah mengerut dan mengumpul antara atom-atom tersebut. Sambil mengerut, debu kosmik mulai berputar karena tarikan gravitasi oleh materi bagian luarnya. Semakin kecil debu kosmik ini mengerut, makin cepat ia berputar sampai akhirnya menjadi cukup kecil dan perputarannya mampu mengimbangi gravitasi antar atomnya.

Dengan mengalirnya waktu, gas hidrogen dan helium dalam galaksi-galaksi tersebut akan terbagi-bagi dalam debu-debu kosmik yang lebih kecil yang meupakan cikal bakal bintang-bintang. Mulailah debu-debu kosmik ini mengumpul dan mengerut oleh gravitasinya sendiri, sehingga atom-atom tersebut akan bertabrakan yang mengakibatkan temperaturnya meningkat sangat tinggi. Temperatur ini menjadi cukup panas untuk memulai reaksi nuklir paduan yang mengubah hidrogen menjadi helium, seperti yang terjadi pada bintang dan matahari kita.

Seperti halnya reaksi nuklir, pastilah menghasilkan sejumlah besar energi panas. Energi panas ini akan meningkatkan tekanan sehingga debu kosmik tersebut berhenti mengerut dan stabil, ini akan berlangsung cukup lama jutaan sampai miliaran tahun tergantung dari massa awal pembentuknya. Fase selanjutnya, bintang tersebut akan mulai kehabisan bahan bakarnya sehingga tekanan yang berasai dari energi panas yang dipancarkannya tidak mampu menahan tarikan gravitasi massanya. Akibatnya bintang tersebut akan mengerut lagi dan temperaturnya meningkat bahkan lebih tinggi daripada temperatur semula. Pada temperatur tersebutlah bahan bakar helium sekarang akan bereaksi yang akan menghasilkan unsur yang lebih berat, seperti karbon (C), oksigen (O) dan logam-logam.

Keadaan seperti ini akan bertahan cukup lama, tergantung pada bahan bakar helium yang dimiliki oleh bintang tersebut. Setelah bahan bakarnya mulai habis timbullah krisis yang mengakibatkan pusat bintang runtuh menjadi sangat rapat menjadi suatu lubang hitam. Atau bintang neutron. Sebelum runtuh, bintang tersebut banyak menghasilkan unsur-unsur berat yang akan terlempar ke luar bintang karena ledakan bintang (supernova). Unsur-unsur berat inilah yang sebagiannya menjadi bahan baku pembuatan bintang generasi selanjutnya. Matahari kita sendiri mengandung unsur berat ini sebanyak 2% massanya, karena matahari adalah bintang generasi kedua atau ketiga, yang terbentuk sekitar 5 miliar tahun yang lalu dari awan yang berupa gas putar yang mengandung debu-debu dari supernova-supernova sebelumnya. Kebanyakan gas dalam awan tersebut membentuk matahari, namun sedikit unsur yang lebih berat akan berkumpul bersama dan membentuk benda langit yang beredar mengelilingi matahari seperti planet, asteroid, komet serta satelit.

Dari teori pembentukan alam semesta seperti yang dipaparkan di atas juga sudah terbukti secara pengamatan langsung seperti yang diungkapkan oleh fakta-fakta ilmiah sebagai berikut :

1. Pada tahun 1965, dua peneliti bernama Arno Penzias dan Robert Wilson menemukan sebentuk radiasi yang selama ini tidak teramati. Disebut “radiasi latar belakang kosmik”, radiasi ini tidak seperti apa pun yang berasal dari seluruh alam semesta karena luar biasa seragam. Pada tahun 1989, George Smoot dan tim NASA-nya meluncurkan sebuah satelit ke luar angkasa. Sebuah instrumen sensitif yang disebut “Cosmic Background Emission Explorer” (COBE) di dalam satelit itu hanya memerlukan delapan menit untuk mendeteksi dan menegaskan tingkat radiasi yang dilaporkan Penzias dan Wilson. Hasil ini secara pasti menunjukkan keberadaan bentuk rapat dan panas sisa dari ledakan yang menghasilkan alam semesta miliaran tahun yang lalu. Kebanyakan ilmuwan mengakui bahwa COBE telah berhasil menangkap sisa-sisa Dentuman Besar.

2. Sampai sekarang pun akibat Dentuman Besar masih membuat alam semesta ini meluas walaupun kecepatan pengembangannya tidak sebesar di awal-awal pembentukannya. Hal ini teramati oleh ilmuwan besar abad 20 Edwin Hubble tahun 1920-an dengan bantuan teropong bintangnya. Dia menemukan melalui pengamatan bahwa galaksi-galaksi dan bintang-bintang bergeser ke arah pergeseran merah dalam spektrum cahaya bintang. Kesimpulan yang bisa diambil dari pengamatan ini bahwa ternyata bintang-bintang dan galaksi-galaksi bergerak saling menjauh sampai sekarang dalam arti umumnya adalah alam semesta ini masih meluas dan mengembang. Maka terbuktilah apa yang dikatakan oleh Sang Kholiq dalam firmanNya 14 abad yang lalu :

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesung-guhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (QS. Adz-Dzaariyat, 51: 47)

1 comment:

  1. The Wizard of Casino - Dr.md
    You are playing a card game with a 춘천 출장샵 special card for you 오산 출장마사지 to play in the 경상북도 출장안마 casino. In the game of 경주 출장샵 Spades, players pick 속초 출장마사지 the winning player in

    ReplyDelete