Tahap III : Terbentuknya Atmosfer Bumi
Alloh SWT berfirman dalam Al Quran surat Fushilat ayat 11 dan 12 sebagai kelanjutan ayat –ayat sebelumnya yaitu :
“Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada Bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan patuh”. Lalu diciptakanNya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian langit yang dekat Kami hiasi dengan bintang-bintang dan Kami ciptakan itu untuk memelihara. Demikian ketentuan (Alloh) Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui”.
Penulis sedikit mengambil analisa bahwa terbentuknya atmosfer bumi terjadi sebelum munculnya kehidupan di bumi seperti tumbuh-tumbuhan karena atmosfer berfungsi sebagai payung atau pelindung kehidupan di bumi dari radiasi matahari yang kuat pada siang hari dan mencegah hilangnya panas ke ruang angkasa pada malam hari. Atmosfer juga merupakan penghambat bagi benda-benda angkasa yang bergerak melaluinya sehingga sebagian meteor yang melalui atmosfer akan menjadi panas dan hancur sebelum mencapai permukaan bumi.
Bila atmosfer bumi belum terbentuk otomatis tidak ada perlindungan permukaan bumi ini terhadap gangguan yang berasal dari luar tersebut sehingga akan mengancam kehidupan itu sendiri. Selain itu air pun tidak bisa terbentuk, karena pasti akan menguap dan ke luar menuju angkasa, sedangkan jika air itu belum terbentuk pastilah tidak akan ada kehidupan di bumi, seperti firman Alloh SWT dalam surat Al Baqoroh ayat 164 : “….dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air , lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah matinya…”
Kata "langit", yang sering kali muncul di banyak ayat dalam Al Qur’an, digunakan untuk mengacu pada "langit" bumi atau atmosfer dan juga keseluruhan alam semesta. Bila kita ambil pengertian pertama, maka dikatakan pada ayat di atas bahwa sebelum terbentuknya langit tersebut, maka langit masih berupa asap. Tidak dapat dipastikan apa yang dimaksud dengan “asap” itu, kita hanya bisa sedikit memprediksikannya.
Di atas sudah dijelaskan bahwa alam semesta ini dahulunya adalah satu kesatuan kemudian Alloh SWT memisahkan antara bumi (sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan bumi adalah benda langit yang memiliki unsur penyusun seperti bumi (tanah) termasuk di dalamnya, seperti planet, bintang, komet dll) dan langit (yaitu langit bumi (atmosfer) dan langit alam semesta). Dentuman besar (Big Bang) dapat juga dianalogikan seperti ledakan pada bom atom. Energi ledakan ini pasti melemparkan sejumlah besar materi dan debu serta jangan lupakan pula pasti ada asap di sana yang berbentuk seperti cendawan (lihat gambar…). Dari sini dapat kita analogikan materi padat dan debu tersebut akan membentuk bumi, planet-planet, bintang dll sedangkan asap akan terkumpul sendiri dengan materi yang berbeda akan menjadi langit, wallahu a’lam.
Walaupun kita tidak tahu secara pasti “asap” tersebut, namun yang mungkin bisa dipastikan sekarang bahwa lapisan atmosfer bumi merupakan campuran dari gas yang sebagian besarnya tidak tampak dan tidak berwarna. Empat gas utama dalam udara kering meliputi :
| Macam Gas | Volume % | Massa % |
| Nitrogen (N2) | 78,088 | 75,527 |
| Total Keseluruhan | 99,097 | 99,097 |
Kondisi dan manfaat gas tersebut dalam atmosfer antara lain:
- Nitrogen (N2) jumlahnya paling banyak, meliputi 78 persen. Nitrogen tidak langsung bergabung dengan unsur lain, tapi merupakan bagian dari senyawa organik.
- Oksigen (O2) sangat penting bagi kehidupan, yaitu untuk mengubah zat makanan menjadi energi hidup.
- Karbon dioksida (CO2) menyebabkan efek rumah kaca (greenhouse) transparan terhadap radiasi gelombang pendek dan menyerap radiasi gelombang panjang. Dengan demikian kenaikan kosentrasi CO2 di dalam atmosfer akan menyebabkan kenaikan suhu di bumi.
Seperti pada Surat Fushilat ayat 12 di atas, terlihat bahwa langit terdiri dari tujuh lapisan. Ilmu pengetahuan modern saat ini mengatakan bahwa atmosfir bumi terdiri atas lapisan-lapisan berbeda yang saling bertumpukan. Lebih dari itu, persis sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an, atmosfer bumi terdiri atas tujuh lapisan.
Dalam sumber ilmiah, hal tersebut diuraikan sebagai berikut: Para ilmuwan menemukan bahwa atmosfer terdiri diri beberapa lapisan. Lapisan-lapisan tersebut berbeda dalam ciri-ciri fisik, seperti tekanan dan jenis gasnya. Lapisan atmosfer yang terdekat dengan bumi disebut troposfer. Ia membentuk sekitar 90% dari keseluruhan massa atmosfer. Lapisan di atas troposfer disebut stratosfer. Lapisan ozon adalah bagian dari stratosfer di mana terjadi penyerapan sinar ultraviolet. Lapisan di atas stratosfer disebut Mesosfer. Termosfer berada di atas mesosfer. Gas-gas terionisasi membentuk suatu lapisan dalam termosfer yang disebut ionosfer. Bagian terluar atmosfer bumi membentang dari sekitar 480 km hingga 960 km. Bagian ini dinamakan eksosfer. .
(Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 319-322)
Jika kita hitung jumlah lapisan yang dinyatakan dalam sumber ilmiah tersebut, kita ketahui bahwa atmosfer tepat terdiri atas tujuh lapis, seperti dinyatakan dalam ayat tersebut.
(1). Troposfer (2). Stratosfer (3). Ozonosfer (4). Mesosfer (5). Termosfer (6). Ionosfer dan
(7). Eksosfer
Selain itu, masing-masing lapisan tersebut memiliki fungsinya sendiri-sendiri untuk kemashlahatan makhluk hidup di Bumi, sebagaimana firman Alloh SWT di atas : "… Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya…..".
1. Lapisan Troposfer
Lapisan ini adalah yang paling dekat dengan permukaan bumi. Gejala cuaca (awan, petir, topan, badai dan hujan) terjadi di lapisan troposfer. Pada lapisan ini terdapat penurunan suhu yang terjadi karena sangat sedikitnya troposfer menyerap radiasi gelombang pendek dari matahari, sebaliknya permukaan tanah memberikan panas pada lapisan troposfer yang terletak di atasnya; melalui konduksi, konveksi, kondensasi dan sublimasi yang dilepaskan oleh uap air atmosfer.
Pertukaran panas banyak terjadi pada troposfer bawah, karena itu suhu turun dengan bertambahnya ketinggian pada situasi meteorologi (ilmu tentang cuaca). Nilainya berkisar antara 0,5 dan 1o C tiap 100 meter dengan nilai rata rata 0,65o C 100 meter.
2. Lapisan Stratosfer
Lapisan atmosfer diatas troposfer merupakan lapisan inversi, artinya suhu udara bertambah tinggi (panas) seiring dengan naiknya ketinggian. Disebut juga lapisan Isothermis. Bagian atas stratosfer dibatasi oleh permukaan diskontinuitas suhu yang disebut stratopause. Stratopause terletak pada ketinggian 60 km dengan suhu 0o C
3. Lapisan Ozonosfer
Ozon (O3) adalah gas yang sangat aktif dan merupakan bentuk lain dari oksigen. Gas ini terdapat pada ketinggian antara 20 hingga 30 km. Ozon dapat menyerap radiasi ultra violet yang mempunyai energi besar dan berbahaya bagi tubuh manusia.
4. Lapisan Mesosfer
Lapisan mesosfer ditandai dengan penurunan orde suhu 0,4o C setiap 100 meter, karena lapisan ini mempunyai keseimbangan radiasi yang negatif. Bagian atas mesosfer dibatasi oleh mesopause yaitu lapisan di dalam atmosfer yang mempunyai suhu paling rendah, kira-kira (- 100o C) Ketinggian sekitar 85 km.
5. Lapisan Termosfer
Lapisan ini terletak pada ketinggian 85 dan 300 km yang ditandai dengan kenaikan suhu dari (- 100o C) sampai ratusan bahkan ribuan derajat.
6. Lapisan Ionosfer
7. Lapisan Eksosfer
Bagian atas lapisan atmosfer dibatasi oleh eksosfer yang meluas dari ketinggian 300 km sampai pada ketinggian 1000 km. Suhu eksosfer adalah konstan terhadap ketinggian, tetapi berubah dengan waktu, yaitu dengan insolasi (incoming solar radiation). Suhu pada malam hari berkisar antara 300 dan 1200o C dan pada siang hari antara 700 dan 1700o C. Densitas eksosfer sangat kecil, kira-kira 10 kali densitas atmosfer permukaan tanah.
No comments:
Post a Comment